Alkisah, di sebuah perkampungan kecil yang asri bernama Gunung Menang, hiduplah sebuah keluarga sederhana yang dianugerahi seorang putri jelita. Kulitnya hitam manis berkilau bak buah manggis matang di tangkai, sorot matanya teduh, dan senyumnya selalu mengembang hangat. Namun kecantikannya bukan sekadar rupa—ia juga manis dalam tutur kata, lembut dalam sikap, serta ramah kepada siapa pun tanpa memandang usia. Gadis itu dikenal dengan sebutan Putri Tepian Manggis. “Tepian” berarti labuhan—tempat bersandar kala suka maupun duka. Banyak remaja putri hingga ibu-ibu datang kepadanya untuk berbagi cerita, mencurahkan isi hati, dan meminta nasihat. Dalam bahasa setempat, tepian juga bermakna tempat pemandian, lokasi masyarakat menyegarkan diri. Begitulah sang putri—menjadi penyejuk hati bagi siapa saja yang mendekat. Sementara “Manggis” disematkan karena kulitnya yang hitam manis serta hatinya yang baik laksana buah yang lezat di balik kulitnya yang gelap. Namun, sebagaimana pepatah berkata:...