Dongeng dari Desa Gunung Menang : PUTRI TEPIAN MANGGIS

Alkisah, di sebuah perkampungan kecil yang asri bernama Gunung Menang, hiduplah sebuah keluarga sederhana yang dianugerahi seorang putri jelita. Kulitnya hitam manis berkilau bak buah manggis matang di tangkai, sorot matanya teduh, dan senyumnya selalu mengembang hangat. Namun kecantikannya bukan sekadar rupa—ia juga manis dalam tutur kata, lembut dalam sikap, serta ramah kepada siapa pun tanpa memandang usia.

Gadis itu dikenal dengan sebutan Putri Tepian Manggis. “Tepian” berarti labuhan—tempat bersandar kala suka maupun duka. Banyak remaja putri hingga ibu-ibu datang kepadanya untuk berbagi cerita, mencurahkan isi hati, dan meminta nasihat. Dalam bahasa setempat, tepian juga bermakna tempat pemandian, lokasi masyarakat menyegarkan diri. Begitulah sang putri—menjadi penyejuk hati bagi siapa saja yang mendekat. Sementara “Manggis” disematkan karena kulitnya yang hitam manis serta hatinya yang baik laksana buah yang lezat di balik kulitnya yang gelap.

Namun, sebagaimana pepatah berkata: ada siang dan malam, ada baik dan buruk. Di desa itu pula hiduplah seorang pemuda tampan, tetapi berhati angkuh dan berperangai kurang terpuji. Ia selalu ingin menang sendiri dan gemar memaksakan kehendak. Masyarakat menjulukinya Putra Tepian Kemang—sebuah sindiran halus atas tabiatnya yang berbeda jauh dari sang putri.

Tanpa diduga, Putra Tepian Kemang jatuh hati kepada Putri Tepian Manggis. Ia berniat meminangnya. Sang putri sebenarnya tidak menaruh rasa, namun ia pun tak kuasa menolak secara terang-terangan. Maka ia mengajukan syarat yang menurutnya mustahil dipenuhi.

Rumah sang putri berdiri di tepi Sungai Sebagut, tetapi bagian yang menghadap sungai adalah dapur. Sang putri menginginkan agar aliran sungai berpindah melewati bagian depan rumahnya—tanpa memindahkan rumah itu sedikit pun. Artinya, bukan rumah yang diubah, melainkan arah sungainya.

Putra Tepian Kemang menerima tantangan itu. Namun sang putri menambahkan syarat: ia harus mengerjakannya seorang diri, tanpa alat dan tanpa bantuan siapa pun, serta harus selesai sebelum fajar menyingsing.

Malam itu, dengan tekad membara, sang putra mulai mengeruk tepian Sungai Sebagut dengan tangan kosong. Ia menggali tanah, membendung aliran lama, dan membuat jalur baru agar sungai mengalir ke depan rumah sang putri. Kerja kerasnya nyaris membuahkan hasil. Tengah malam belum berlalu, tetapi aliran sungai hampir berubah.

Sang putri terperanjat. Jika pemuda itu berhasil, ia harus menepati janji dan menjadi istrinya. Dalam kebingungan dan kecemasan, ia bangun menunaikan salat hajat, memohon petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Tak lama kemudian, langit mendadak gelap. Hujan deras turun disertai kilat dan halilintar. Air Sungai Sebagut meluap dahsyat. Bendungan yang dibuat sang putra jebol, dan air bah mengalir tak terkendali. Jalur baru yang hampir selesai justru membuat sungai terbelah dua: sebagian mengalir melalui alur lama di belakang rumah, sebagian lagi melalui alur baru di depan rumah sang putri.

Saat fajar tiba dan hujan mereda, sang putra menyaksikan sungai mengalir di dua sisi rumah. Ia tak sepenuhnya berhasil, namun juga tak sepenuhnya gagal. Rasa malu dan kecewa menyelimuti hatinya. Tanpa pamit, ia pergi merantau meninggalkan Gunung Menang.

Waktu berlalu. Putri Tepian Manggis akhirnya menikah dengan pemuda pilihan hatinya dan hidup berbahagia. Hingga kini, aliran sungai yang terbelah dua itu masih dapat dijumpai di Tepian Manggis, Kampung I, Desa Gunung Menang, Kecamatan Penukal—menjadi saksi bisu kisah cinta, tekad, dan doa.

Masyarakat Gunung Menang pun dikenal sangat menghormati para tamu dan perantau. Konon, mereka percaya bahwa kebaikan kepada orang asing adalah doa yang dikirimkan jauh ke negeri orang—agar siapa pun yang merantau dari kampung itu, termasuk sang putra, senantiasa mendapat pertolongan dan kebaikan di tempatnya berpijak.


(Gunung Menang,03 Mei 2007)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#puisi Terbayang Luka

Aku Tak Tau

Gelombang Kehidupan